• (0231) 484354

  • |
  • Email:

    isif@isif.ac.id

  • |
  • Sign in
  • PIT (Praktik Islamologi Terapan), Solusi Perubahan Sosial

    2015-07-06 14:11:18

    ISIF.ac.id, Cirebon - KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang diadakan oleh Perguruan Tinggi di Indonesia laksana kerja bakti bagi peserta KKN. Mahasiswa hanya diarahkan untuk mengadakan apa yang dibutuhkan masyarakat seperti jembatan, pembatas desa, tempat sampat dan lain-lain. Sepeninggal mahasiswa KKN, barang dan sarana tersebut tidak terawat. Penyebabnya, KKN yang berjalan seama ini belum menyentuh jantung kebutuhan masyarakat itu sendiri. PIT bukan hanya wacana, tapi hadir sebagai upaya perubahan sosial dari dan untuk masyarakat.

    LP M (Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat) ISIF menggandeng LPTP (Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan) Solo mengadakan Pemebekalan PIT bagi Dosen Pembimbing PIT pada tanggal 28-29 April 2015 dengan tema “Workshop Riset untuk Transformasi Sosial”. Fasilitator workshop ini, Rahadi mengatakan, setidaknya ada dua alasan mengapa KKN belum menyentuh jantung kebutuhan masyarakat, Rabu (29/4).  

    “Pertama, masih adanya anggapan dari mahasiswa atau Perguruan Tinggi bahwa masyarakat tidak mampu menyelesaikan persoalannya sendiri tanpa bantuan mahasiswa. Sehingga apa yang dilakukan oleh mahasiswa hanya mengadakan apa yang tidak ada di masyarakat. Pola pikir seperti ini, menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan,” ujar direktur SOSDEK (Sosial Ekonomi Pedesaan) di LPTP Solo ini.

    Masih menurut Rahadi, kedua, mahasiswa atau Perguruan Tinggi belum bisa beranjak dari permainan wacana. Seolah-olah dengan pemikiran-pemikiran teoritik semua hal bisa diselesaikan. Padahal tridharma perguruan tinggi tidak hanya berbicara aspek intelektualitas belaka tapi juga tindakan konkret berupa pengabdian masyarakat.

    “Perubahan sosial tidak bisa terjadi kalau hanya dilakukan dalam wacana. Maka penting adanya tindakan konkret bersama masyarakat untuk sama-sama belajar menyelesaikan persoalan yang dihadapi,” tegas Rahadi.

    Oleh karena itu, katanya, PIT yang akan dilaksanakan oleh ISIF ini harus lebih diarahkan ke pembelajaran bersama masyarakat. Lebih lanjut Rahadi mengharap agar selain membelajarkan mahasiswa dalam memahami masyarakat, PIT harus menjadi penghubung antara masyarakat dengan kebutuhan masyarakat.

    Pernyataan-pernyataan kritis Rahadi di atas disambut antusias oleh peserta workshop yang terdiri dari enam belas calon Dosen Pembimbing Lapangan PIT itu. Bahkan beberapa dosen yang masih bersikukuh dengan pemahaman lama seputar PIT merasa ada yang keliru dalam pembimbingan PIT.

    Nadisa Astawi, Kepala Prodi Ekonomi Syariah ISIF misalnya, berulang kali mengajukan pertanyaan seputar pemetaan desa dan pengorganisasian masyarakat. Bagi Nadisa, pola pembimbingan seperti sekarang ini tergolong baru. Begitu juga Lailatul Qoimah, dosen tafsir di Prodi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir, menyatakan bahwa bukan hal mudah melepaskan kajian-kajian teks.

    Sekalipun berat, mereka sepakat untuk mengubah pola pembimbingan. Masa depan harus dimulai dari perubahan hari ini. [Muiz]

  • Browser :
  • OS : Unknown Platform
  • Dikunjungi sebanyak : 19 kali

  • Pendaftaran