• (0231) 484354

  • |
  • Email:

    isif@isif.ac.id

  • |
  • Sign in
  • Diskusi dan Nonton Bareng Film Santri

    2015-10-15 10:08:47

    ISIF.ac.id, Cirebon - Tahun ini, Search for Common Ground (SfCG) memprakarsai dibentuknya Festival Film Santri 2013, “Memahami untuk Menghargai”, yang diikuti oleh 10 Pesantren di Indonesia, salah satunya adalah Pesantren Raudlatul Banat yang ada di Cirebon.

    Demi mengapresiasi film dokumenter yang dihasilkan para santri tersebut, Jumat (19/07/2013) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Tarbiyah bekerjasama dengan Bayt al-Hikmah mengadakan kegiatan “Diskusi dan Nonton Bareng Film Santri”. Sekitar 100 peserta dari kalangan mahasiswa dan santri dari bebagai pesantren di Cirebon hadir dalam acara ini.  Acara ini dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang dilaksanakan di aula Gotrasawala ISIF.

    Agus Hadi Nahrowi, MA, Program Manager SfCG, mengatakan bahwa acara ini diselenggarakan untuk mengangkat dan menghapus stereotype atas identitas santri di masyarakat, yang dianggap hanya bisa ngaji dan kadang dikaitkan sebagai bibit teroris. Selain itu, kegiatan ini digelar untuk membawa misi perdamaian atas kasus-kasus intoleransi di Indonesia.

    “Film dokumenter yang dibuat oleh para santri ini diisi dengan tema-tema yang sangat menarik termasuk di dalamnya tema toleransi, perdamaian, anti kekerasan dan kearifan lokal,” ungkapnya.

    Hal itu bisa dilihat dari 4 buah film dokumenter yang diputar, seperti film  “Dewek Be Islam” yang menceritakan tentang Islam Kejawen di daerah Cilacap, dan “Kuda Lumping” di Sumatera Selatan. Ada juga “Satu Alamat” yang menceritakan tentang rumah ibadah agama Kristen dan Islam yang berdampingan, dan yang terakhir  film “Mujadi”.

    “Saya terkesan dengan film tentang Islam Kejawen. Dimana para Santri pembuat film tersebut dapat menyuguhkannya secara apa adanya tanpa menjustifikasi, apakah salah ataupun benar,”  tanggap Abdul Muiz Ghazali, salah satu Dosen ISIF yang diminta menjadi narasumber dalam acara ini.

    Namun menurutnya ada yang menjadi PR besar yang perlu dilakukan untuk kedepannya, yaitu meminimalisir penyampaian informasi tentang penafsiran ayat al-Qur’an yang dianggap keras terhadap perbedaan, untuk membuat masyarakat memahami bahwa Islam sangat menghargai perbedaan.

    “Ada satu PR besar bagi kita setelah melihat film ini, yaitu bagaimana cara kita mengekspresikannya kedalam bentuk dokumenter mengenai penafsiran ayat-ayat yang dianggap keras terhadap perbedaan,” tambah Muiz.

    Rencananya, setelah diadakan di Cirebon, Search for Common Ground akan mengadakan kegiatan yang sama di berbagai tempat, dimulai sejak 15 Juli kemarin hingga pertengahan September mendatang, dengan total 30 tempat  yang dikunjungi di Indonesia. [Diaz]

  • Browser :
  • OS : Unknown Platform
  • Dikunjungi sebanyak : 19 kali

  • Pendaftaran