• (0231) 484354

  • |
  • Email:

    isif@isif.ac.id

  • |
  • Sign in
  • REFLEKSI OSPEK 2015:  BUMI INDONESIA TELAH MENYEDIAKAN BANYAK KEBUTUHAN MANUSIA TANPA HARUS MEMBELI

    2015-10-31 13:34:55

    ISIF.ac.id, Cirebon - Pernyataan di atas dilontarkan oleh mahasiswa ISIF dalam sesi refleksi setelah menonton film dokumenter berjudul “BADUY”. Film yang menjadi pemantik diskusi peserta Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) ISIF tersebut mendapat sambutan dan apresiasi  yang sangat meriah. Sejak pukul 14.00-16.00 WIB, bedah film dan diskusi digelar. Tak sekadar menonton film, para peserta diajak untuk bersama-sama merefleskikan substansi dari film tersebut dalam bentuk sosio drama tanpa dialog per kelompok.

    Orientasi mahasiswa baru ISIF digelar seharian penuh pada Kamis tanggal 8 Oktober 2015 di kampus ISIF. Acara ini diikuti oleh 98 mahasiswa ISIF. Kegiatan ospek dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang disenandungkan oleh Bahruddin, mahasiswa semester tujuh, kemudian diteruskan ikrar bakti kepada Nusa dan Bangsa melalui Lagu Indonesia Raya dan Hyme ISIF yang dipandu oleh Zaenal Abidin. Prof. Dr. A. Chozin Nasuha selaku Rektor ISIF memberikan sambutannya dikuti serangkaian acaralainnya yakni sambutan dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa ISIF, Pemaparan Tehnis belajar di ISIF, Pemutaran film dokumenter “BADUY” dan diskusi, apresiasi seni, dan padang wulanan.

    Bicara keilmuan di ISIF

    Abah Chozin –sapaan akrab Prof. Dr. A. ChozinNasuha- sembari duduk bersila di hadapan peserta, mendedahkan pernyataan awal diskusinya bahwa garis besar keilmuan terbagi menjadi dua, yakni ilmu sosial dan ilmu budaya.

    “Otak kiri menentukan tindakan manusia pada aspek rasionalitas, sedangkan otak kanan sebaliknya, yakni sensitivitas dan emosional. Baik fungsi otak kanan dan otak kiri, keduanya sangat positif. Nah, pembelajaran di ISIF, menyediakan ruang bagi mahasiswanya dalam mengeksplorasi dan mendalami ilmu. Ini dimaksudkan agar mmahaiswa ISIF dapat mendalami ilmu sosial dan budaya secara komperhensif,” pungkas Abah chozin di sela-sela pemaparan.

    Pada sesi ini salah satu peserta OSPEK Abdul Hadi, mengungkapkan kegelisahannya terkait fenomena globalisasi. “Di mana posisi ISIF sendiri dalam konteks globalisasi?” tanya Hadi. Abah Chozin menjawabnya dengan mengutip aforisme dari Napoleon, bahwa perkataan "tidak mungkin" hanya ada di kamus orang bodoh. “Globalisasi, saya kira, pasti mampu dilewati oleh kita. Nah, di ISIF ini, mahasiswa diberikan ruang seluas-luasnya untuk terus berkreativitas, berdikusi. Kita mesti mencontoh Abu Hanifah,“tuturnya.

    Kedaulatan Indonesia

    Setelah pemutaran film “BADUY” dan refleksi kelompok, mahasiswa diajak untuk berdiskusi perihal tema utama OSPEK ini yakni “Kedaulatan Pangan dan Transformasi Sosial". Diskusi ini dipandu oleh para dosen ISIF yakni Farida Mahri, Abdul Muiz Ghazil, dan Dede Wahyudin. Fasilitator mengajak mahasiswa menganalisa problematika seputar kedaulatan pangan yang terdapat di lingkungan masing-masing.

    Dalam diskusi, terungkap hampir semua mahasiswa berasal dari keluarga petani, dan sebagian besar hanya petani pengarap (tidak memiliki lahan). Namun mereka tidak mau kembali menjadi petani, karena menjadi petani tidak menguntungkan secara ekonomi. Mereka juga mengakui ketergantungan yang luar biasa terhadap barang-barang dari luar, padahal sebenarnya barang-barang tersebut dapat dihasilkan sendiri, sebagaimana halnya yang mereka saksikan dalam film “BADUY”. Film BADUY ini telah menginspirasi kesadaran baru pada mahasiswa bahwa pada hakekatnya Bumi Indonesia telah menyediakan banyak kebutuhan manusia tanpa harus membeli.

    Seni untuk Indonesia

    Pukul 16.00 sesi berlanjut dengan apresiasi dan pentas seni mahasiwa, pertama penampilan dari Adagio Band asal Cirebon. Tak kalah menarik, Peserta Ospek juga ikut berjibaku menampilkan kreasi seni. Wulan, Kinanti, dan Mira, mahasiswa semester satu yang berasal dari Keluarga Sunda Wiwitan Cigugur, Kuningan, menyuguhkan pentas kesenian tari Rampak Gendang diiringi dengan irama khas Sunda. Selepas pentas, Wulan, menjelaskan pada para hadirin bahwa Tarian Rampak Gendang merupakan insprirasi dari kekuatan akan perjuangan perempuan.

    Nisa Rengganis, penyair kenamaan dari Cirebon yang juga dosen ISIF dan Neneng Alfiah, mahasiwa ISIF semester tujuh yang juga seorang deklamator kenamaan menampilkan musikalisasi puisi. Di penghujung acara, semua yang hadir, dari dosen, mahasiswa dan peserta ospek ISIF tampil menyanyikan bersama lagu dari Iwan Fals, yang berjudul Bento dan Kemesraan. Kegiatan ospek ditutup pada malam harinya dengan tradisi Padang Wulanan, sembari dihangatkan oleh Api Unggun, pembacaan puisi dan refleksi malam hari. [Omen]

  • Browser :
  • OS : Unknown Platform
  • Dikunjungi sebanyak : 19 kali

  • Pendaftaran