• (0231) 484354

  • |
  • Email:

    isif@isif.ac.id

  • |
  • Sign in
  • KUD Mina Waluya Bondet Kerjasama ISIF Cirebon Gelar Seminar

    2016-11-16 19:43:05

    GUNUNGJATI, (FC).- Perayaan tradisi nadran atau sedekah laut yang setiap tahun dilaksanakan di sungai bondet, kali ini terasa sedikit berbeda.  Pasalnya, KUD Mina Waluya Bondet bekerjasama dengan Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon menggelar seminar bertajuk Melacak Tradisi Nadran di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Mertasinga, Kec. Gunungjati Kab, Cirebon, kemarin (13/11).

    Rektor ISIF Ciebon, Hj. Afwah Mumtazah melalui Ketua Pantia Pelaksana, Nadisa Astawi mengatakan, digelarnya kegiatan seminar bertujuan agar masyarakat sekitar tidak ahistoris terhadap kegiatan Upacara Nadran yang biasa dilakukan setiap tahunnya itu dan juga masyarakat bisa mengambil nilai luhur yang ada, tidak hanya mengambil perayaannya saja.

    “Nadran berasal dari bahasa arab Nadzar, yang berarti janji yang harus ditepati. Kita juga harus mengetahui sejarahnya dulu agar tidak mengatakan bahwa nadran itu adalah bid’ah apalagi syirik,” ungkap Nadisah kepada “FC”, Senin (14/11).

    Ia mengungkapkan, kegiatan ini adalah salah satu bentuk komitmen ISIF dalam menjunjung kearifan budaya lokal, dan agar masyarakat setempat dapat benar-benar merasa memiliki budaya sendiri karena paham akan sejarahnya. “Saya berharap kegiatan ini bisa terus dilaksanakan, sehingga masyarakat sekitar yang terus merayakan upacara nadran pun bisa mengetahui sejarah dan nilai-nilainya,” ujarnya.

    Sementara itu, Budayawan Cirebon, R. Opan Sapari menyampaikan, selama ini kebanyakan masyarakat mengetahui bahwa pemimpin yang menganut agama Islam di Jawa yang pertama berasal dari Kesultanan Demak. Padahal sebelum itu sudah ada Ki Ageng Tapa atau Ki Jumajan Jati dari Kerajaan Singapura sejak 1415.

    “Waktu itu masih di bawah Kerajaan Galuh. Dan beliau juga-lah yang pertama kali memprakarsai adanya upacara nadran ini,” ucapnya.

    Senada, salah satu pebicara bernama Elang Panji Jaya menyatakan, upacara nadran adalah salah satu bentuk ucapan syukur kepada Tuhan melalui alam-Nya, karena telah memberikan rezeki kepada manusia. Salah satunya dengan upacara lelumbanan, dengan melarung kepala kerbau ke laut sebagai simbolisasi atas perwujudan atas pengakuan ketauhidan Tuhan, atau Ketuhanan Yang Maha Esa.

    “Hal ini juga dikarenakan kepala kerbau yang disebut sebagai Mahesa dalam bahasa Jawa Kawi,” tukasnya.

    Seminar itu dihadiri berbagai pihak diantaranya Disbudparpora Kab.Cirebon, TNI, Kapolsek, dan juga mantan anggota DPR RI 2004-2014 H. Nurul Qomar. Setelah seminar selesai, dilanjutkan dengan tahlilan dan memotong kerbau. Lalu pagi harinya, Senin (14/11), diadakan upacara Lelumban, dengan melarung kepala kerbau tersebut beserta sesajenan yang lain ke laut. (Fajar Cirebon)

     

  • Browser :
  • OS : Unknown Platform
  • Dikunjungi sebanyak : 19 kali

  • Pendaftaran