• (0231) 484354

  • |
  • Email:

    isif@isif.ac.id

  • |
  • Sign in
  • DASAR PENDIRIAN 

     

    Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon lahir atas dasar idealisme institusionalisasi gagasan dan pemikiran keislaman ala fahmina. Realitas saat itu, ISIF tidak mempunyai tanah, gedung, dan uang yang cukup. Hanya memiliki rumah kecil dan segudang pengalaman penelitian, kajian, pendidikan, pelatihan, publikasi, dan pemberdayaan masyarakat.

     

    Selain fasilitas yang minim dan pengalaman di atas, ISIF mencari inspirasi ke INSIT, Paramadina, dan STF Driyakarya. Selanjutnya perumusan visi, misi, tujuan dan kurikulkum dilakukan secara partisipatoris melibatkan calon dosen dan calon pengelola ISIF. Perumusan tersebut mengutamakan gagasan kolektif.

     

    LAHIR DARI GERAKAN SOSIAL KEAGAMAAN

     

    Mengapa begitu? Mungkin salah satu jawabannya adalah karena ISIF lahir dari rahim gerakan sosial kemanusiaan Fahmina-institute. Tentu saja, kenyataan ini berbeda dengan kampus lainnya yang umumnya lahir dari ruang hampa atau dari tuntutan program pembangunan atau dari keinginan elit Yayasan. Kelahiran ini pun terjadi atas dorongan aspirasi publik konstituen Fahmina dalam ulang tahun ketujuh pada tahun 2007 di Cirebon. Istikhârah dan ijtihâd para pendiri Fahmina membulatkan pendirian lembaga pendidikan tinggi Islam ini. 

     

    Tujuh tahun sebelum ISIF lahir, Fahmina telah melakukan berbagai kegiatan akademik, baik dalam bentuk pendidikan dan pelatihan, penelitian, maupun advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Rangkaian kegiatan akademik ini selain menjadi bahan pembelajaran yang sangat penting juga dipublikasikan dalam bentuk buku, majalah, news letter, dan website. Fokus utama kegiatan akademik Fahmina adalah Islam dan gender, Islam dan demokrasi, dan Islam dan penguatan masyarakat, khususnya dalam penanggulangan kekerasan terhadap perempuan, trafiking, dan dialog antariman. 

     

    Dalam rangkaian kegiatan ini, Fahmina tidak pernah memisahkan antara wacana dengan gerakan, antara teori dengan praktik, dan bahkan antara ilmu, amal, dan iman. Ilmu (wacana/teori) harus diamalkan dan didasarkan pada keimanan. Iman harus diwujudkan dalam bentuk amal (praktik) yang didasarkan pada keilmuan. Amal (praktik) harus didasarkan pada ilmu yang bermuara dari keimanan. Muara dari sinergitas atau integrasi ilmu (wacana/teori), amal (praktik/gerakan), dan iman (teologi) adalah transformasi sosial (kemaslahatan) untuk keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan. 

     

    DISTINGSI ISIF

     

    Penting dicatat, pembeda mendasar ISIF dengan PTAI lain adalah struktur dan substansi kurikulumnya. Dalam kurikulum itu, ISIF menempatkan keadilan (al-’adâlah), kesetaraan (al-musâwah), kemanusiaan (al-basyariyah), lokalitas (al-‘âdah), dan kebhinekaan (at-ta’addudiyyah) sebagai perspektif atau paradigma untuk studi keislaman, baik bagi mahasiswa maupun dosennya. Pada semester pertama, mahasiswa ISIF memperoleh mata kuliah studi gender, studi HAM, studi demokrasi, studi pluralisme, studi kebudayaan lokal, dan studi gerakan sosial, sesuatu yang nihil dari kurikulum PTAI manapun.

     

    Setelah rumpun mata kuliah perspektif ini, mahasiswa ISIF pada semester kedua memperoleh rumpun mata kuliah metodologi dan alat analisis yang bisa digunakan untuk memperoleh akurasi dan ‘kebenaran’. Di antara metodologi yang diberikan adalah metodologi penelitian kualitatif, metodologi penelitian kuantitatif, metodologi penelitian aksi partisipatoris, analisis sosial, pengorganisasian masyarakat, serta belajar dan hidup bersama masyarakat. Harapannya, mahasiswa ISIF sejak dini memiliki kemampuan metodologis untuk meneliti, mengkaji, dan menganalisis realitas sosial, realitas sejarah, teks, dan realitas budaya. 

    Pada semester ketiga, ISIF menawarkan rumpun mata kuliah “studi pengantar ilmu-ilmu keislaman.” Di antaranya adalah studi pengantar al-Qur’an, studi pengantar al-Hadits, studi pengantar kalam, studi pengantar hukum Islam, studi pengantar tasawuf, dan studi pengantar ushul fiqh. Sejak semester ini, mahasiswa ISIF mulai memasuki area studi Islam, dari studi pengantar hingga kepada substansi yang mendalam, kepakaran, dan mata kuliah pilihan profesi pada semeseter ketujuh dan kedelapan. 

     

    POSISI EPISTEMOLOGI ISLAM

     

    Ditilik dari kurikulum ini saja, ISIF tampak berbeda dengan PTAI lain. ISIF mengambil posisi yang jelas antara keislaman, kemanusiaan, dan realitas sosial yang terus berubah. Tiga hal itu diposisikan ISIF hampir sama dengan konsep Trinitas dalam pemahaman Kristiani. 

     

    Islam dalam pandangan ISIF bukan hanya teks al-Qur’an dan Hadits, melainkan adalah keseluruhan proses kehidupan itu sendiri, lengkap dengan pergolakan, dialog, negosiasi, resistensi, penerimaan dan penolakan, baik yang dilakukan oleh Nabi SAW pada saat itu di kawasan jazirah Arabia, maupun proses kehidupan kita hari ini dan di sini. Islam tidak berhenti dan tidak akan pernah berhenti hingga kehidupan ini berakhir. Sejak zaman Nabi SAW, Islam terus berproses dan menjadi dalam segala ruang dan waktu, tanpa berbatas. 

     

    Studi Islam dalam pandangan ISIF dengan demikian adalah memahami kehidupan manusia dengan seluruh darah daging kebudayaannya dan keterkaitannya dengan alam semesta, lalu mengubahnya ke arah terwujudnya keadilan, kemaslahatan, dan kebahagiaan. Islam tidak netral dan tidak bebas nilai. Sebaliknya, Islam adalah tata nilai itu sendiri yang menjadi basis dan tujuan kehidupan, yakni nilai keadilan, kemaslahatan, kesetaraan, kerahmatan, dan kebijaksanaan. 

     

     

     

  • Browser :
  • OS : Unknown Platform
  • Dikunjungi sebanyak : 19 kali

  • Pendaftaran